Masjid As-sunnah Mangkutana

Masjid waktu subuh

As-sunnah Mangkutana

foto keada’an masjid as-sunnah imam al-bukhariy mangkutana beberapa saat setelah adzan pertama dikumandangkan oleh muadzdzin.

Ali bin al-Madiny (Wafat 234 H)

Namanya adalah Ali bin al-Madiny seorang imam hadits terkemuka yang dapat memasuki segala pintu ilmu hadist, istimewanya pintu ilmu Rijal dan ‘ilal. Beliau telah menyusun banyak kitab yang belum pernah ada dan sukar ditandingi oleh ulama ulama yang datang sesudahnya, karena itu beliau sangat dipuji dan dihargai oleh para ulama. Sufyan bin Uyainah berkata,” Demi Allah, aku belajar dari ali lebih banyak dari pada dia belajar kepadaku”. Abi Hatim berkata,” Ibnu Madiny seorang ulama besar dalam mema’rifati hadist dan illat illatnya.” Al Hakim dalam kitabnya Ma’rifatu Ulumil Hadits menyebutkan sejumlah karangan ibn Madiny yang membuktikan bahwa beliau ini sangat luas ilmunya dalam bidang Ulumul hadits. Diantara kitab kitabnya adlah Kitabu Madzhabibil Muhadditsin dan kita Al-‘Ilal al-Mutafarriqah yang terdiri dari 30 Juz dan kita Ikhtilaful hadist yang terdiri dari 5 juz. Al-Hakim berkata,” Sebagian dari karangan Ali bin al Madiny yang menunjukan kepada keluasan ilmunya dalam bidang hadist, ialah kitab al-Asmau wal Kuna, Kitab adldlu’afa, Kitab al-Mudallisin, Kitab at Thabaqat, ‘Ilalul Musnad, Ilal Hadiits Ibn Uyainah. Kesemuanya itu menunjukan kepada ketinggian Ilmunya. Ia wafat pada tahun 234 H di Samari.
Disalin dari Biografi Ali bin al-Madiny dalam Tahdzibul Asma an Nawawi 1/350, Tahdzib at Tahdzib Ibn Hajar asqalanii 323

Sumber:ahlulhadist.wordpress.com

Terjemah Matan Al-Baiquniyyah

ﺃَﺑْـﺪَﺃُ ﺑِﺎﻟﺤَﻤْـﺪِ ﻣُـﺼَﻠِّﻴﺎً ﻋﻠـﻰ * ﻣُﺤَﻤَّــﺪٍ
ﺧَﻴْﺮِ ﻧَﺒﻲِّ ﺃُﺭْﺳِـﻼ
Aku memulai dengan memuji
Allah dan bershalawat atas
Muhammad,nabi terbaik yang
diutus
ﻭَﺫﻱ ﻣـﻦْ ﺃﻗﺴـﺎﻡِ ﺍﻟﺤَﺪﻳﺚِ ﻋِﺪَّﻩْ * ﻭَﻛُـﻞُّ
ﻭَﺍﺣِـﺪٍ ﺃَﺗَﻰ ﻭَﻋَـﺪَّﻩْ
Inilah berbagai macam
pembagian hadits.Setiap
bagian akan datang
penjelasannya
ﺃَﻭَّﻟُﻬَﺎ ﺍﻟﺼَّﺤِﻴﺢُ ﻭَﻫُـﻮَ ﻣَﺎ ﺍﺗَّﺼَـﻞّْ* ﺇﺳْﻨَﺎﺩُﻩُ
ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺸُـﺬَّ ﺃَﻭْ ﻳُﻌَـﻞّْ
Pertama hadits shahih yaitu
yang bersambung sanad nya,
tidak mengandung syadz dan
‘illat
ﻳَﺮْﻭﻳﻪِ ﻋَﺪْﻝٌ ﺿَـﺎﺑِﻂٌ ﻋَﻦْ ﻣِﺜْﻠِـﻪِ * ﻣُﻌْﺘَﻤَـﺪٌ
ﻓِﻲ ﺿَﺒْﻄِﻪِ ﻭَﻧَﻘْﻠِـﻪِ
Perawi nya ‘adil dan dhabith
yang meriwayatkan dari yang
semisalnya (‘adil dan dhabith
juga) yang dapat dipercaya ke-
dhabith-an dan periwayatan
nya
ﻭَﺍﻟﺤَﺴَﻦُ ﺍﻟﻤَﻌْﺮﻭﻑُ ﻃُﺮْﻗـﺎً ﻭَﻏﺪَﺕْ *
ﺭِﺟَﺎﻟَﻪُ ﻻ ﻛَﺎﻟﺼَّﺤِﻴﺢِ ﺍﺷْﺘَﻬَﺮَﺕْ
(Kedua) Hadits Hasan yaitu yang
jalur periwayatannya ma’ruf..
akan tetapi perawinya tidak
semasyhur hadits shahih
ﻭَﻛُﻞُّ ﻣَﺎ ﻋَﻦْ ﺭُﺗْﺒَﺔِ ﺍﻟﺤُﺴْﻦِ ﻗَﺼُـﺮْ * ﻓَﻬُﻮَ
ﺍﻟﻀَّﻌِﻴﻒُ ﻭَﻫْﻮَ ﺃَﻗْﺴَﺎﻣَﺎً ﻛَﺜُﺮْ
Setiap hadits yang lebih rendah
dari derajat hadits hasan adalah
hadits (ketiga) Dhaif dan terbagi
atas banyak bagian
ﻭَﻣَـﺎ ﺃُﺿِﻴﻒَ ﻟِﻠﻨَّﺒﻲ ﺍﻟﻤَﺮْﻓُــﻮﻉُ * ﻭَﻣَـﺎ ﻟِﺘَﺎﺑِﻊٍ
ﻫُـﻮَ ﺍﻟﻤَﻘْﻄُـﻮﻉُ
Hadits yang disandarkan kepada
nabi adalah Hadis Marfu’ dan
yang disandarkan kepada
Tabi’in adalah Hadits Maqthu’
ﻭﺍﻟﻤُﺴْﻨَﺪُ ﺍﻟﻤُﺘَّﺼِﻞُ ﺍْﻹﺳْﻨَﺎﺩِ ﻣِــﻦْ * ﺭَﺍﻭِﻳﻪِ
ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟﻤُﺼْﻄَﻔَﻰ ﻭﻟَﻢْ ﻳَﺒِﻦْ
Hadits Musnad adalah yang
bersambung sanadnya
perawinya sampai kepada nabi
tanpa terputus
ﻭَﻣَـﺎ ﺑِﺴَـﻤْﻊِ ﻛُﻞِّ ﺭَﺍﻭٍ ﻳَﺘَّﺼِـﻞْ * ﺇﺳْﻨَﺎﺩُﻩُ
ﻟِﻠْﻤُﺼْﻄَﻔَﻰ ﻓَﺎﻟْﻤُﺘَّﺼِـﻞْ
Hadits yang setiap perawi nya
mendengar satu sama lain dan
bersambung sanad nya sampai
nabi maka disebut Al Muttashil
(bersambung)
ﻣُﺴَﻠْﺴَﻞٌ ﻗُﻞْ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺻْﻒٍ ﺃَﺗَﻰ * ﻣِﺜْﻞُ
ﺃَﻣَﺎ ﻭَﺍﻟﻠـﻪِ ﺃَﻧْﺒَﺎﻧِﻲ ﺍﻟْﻔَﺘَـﻰ
Hadits Musalsal adalah hadits
yang dibawakan dengan
menyertakan sifat (yang selalu
sama) seperti perkataan perawi
“Ketahuilah,Demi Allah telah
memberitahuku seorang
pemuda”
ﻛَـﺬَﺍﻙَ ﻗَـﺪْ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻴﻪِ ﻗَﺎﺋِﻤــﺎ * ﺃَﻭْ ﺑَﻌْـﺪَ ﺃَﻥْ
ﺣَﺪَّﺛَﻨِـﻲ ﺗَﺒَﺴَّـﻤﺎ
Begitu juga seperti “Si Fulan
Telah bercerita kepadaku sambil
berdiri” atau “setelah bercerita
kepadaku,ia tersenyum”
ﻋَﺰِﻳﺰُ ﻣَﺮْﻭِﻱ ﺍﺛْﻨَﻴﻦِ ﺃَﻭْ ﺛَﻼَﺛَــﻪْ * ﻣَﺸْﻬُﻮﺭُ
ﻣَﺮْﻭِﻱ ﻓَﻮْﻕَ ﻣَـﺎ ﺛَﻼَﺛَﻪْ
Hadits ‘Aziz adalah hadits yang
diriwayatkan oleh dua atau tiga
orang perawi sedangkan Hadits
Masyhur diriwayatkan oleh
lebih dari tiga perawi
ﻣُﻌَﻨْﻌَﻦٌ ﻛَﻌَﻦْ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﻋَـﻦْ ﻛَـﺮَﻡْ * ﻭَﻣُﺒْﻬَﻢٌ
ﻣَـﺎ ﻓﻴﻪِ ﺭَﺍﻭٍ ﻟَﻢْ ﻳُﺴَـﻢّْ
Hadits Mu’an’an itu seperti
perkataan perawi “dari sa’id,
dari Karom” dan Al Mubham itu
hadits yang perawinya tidak
diberi nama
ﻭَﻛُـﻞُّ ﻣـَﺎ ﻗَﻠَّﺖْ ﺭِﺟَﺎﻟُﻪُ ﻋَـﻼَ * ﻭَﺿِـﺪُﻩُ ﺫَﺍﻙَ
ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻗَﺪْ ﻧَـﺰَﻻَ
Setiap hadits yang sedikit
perawinya disebut hadits ‘Aaliy
dan kebalikannya disebut hadits
Naazil
ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺿَﻔْﺘَﻪُ ﺇِﻟﻰ ﺍﻷَﺻْﺤَـﺎﺏِ ﻣِﻦْ * ﻗَﻮْﻝٍ
ﻭَﻓِﻌْﻞٍ ﻓَﻬْﻮَ ﻣَﻮْﻗُﻮﻑٌ ﺯُﻛِﻦْ
Perkataan atau perbuatan yang
kau sandarkan kepada Sahabat
adalah Hadits Mauquf
ﻭَﻣُﺮْﺳَـﻞٌ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑِﻲُّ ﺳَﻘَﻂْ * ﻭَﻗُﻞْ
ﻏَﺮِﻳﺐٌ ﻣَﺎ ﺭَﻭَﻯ ﺭَﺍﻭٍ ﻓَﻘَﻂْ
Hadits Mursal adalah hadits yang
perawinya gugur di tingkat
Sahabat dan katakanlah Hadits
Gharib itu hadits yang
diriwayatkan oleh seorang
perawi saja
ﻭَﻛُـﻞُّ ﻣَﺎ ﻟَـﻢْ ﻳَﺘَّﺼِﻞْ ﺑِﺤَـﺎﻝِ * ﺇِﺳْـﻨَﺎﺩُﻩُ
ﻣُﻨْﻘَﻄِﻊُ ﺍْﻷﻭْﺻَـﺎﻝِ
Setiap hadits yang tidak
bersambung sanadnya disebut
Hadits Munqathi’
ﻭَﺍﻟﻤُﻌْﻀَﻞُ ﺍﻟﺴَّـﺎﻗِﻂُ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﺛْﻨَـﺎﻥِ * ﻭَﻣَـﺎ
ﺃَﺗَﻰ ﻣُﺪَﻟَّﺴـﺎً ﻧَﻮْﻋَـﺎﻥِ
Hadits Mu’dhal adalah hadits
yang gugur pada sanadnya dua
rawi.Hadits yang ditadlis ada
dua macam
ﺍﻷَﻭَّﻝُ ﺍﻻﺳْـﻘَﺎﻁُ ﻟﻠﺸَّﻴْﺦِ ﻭَﺃﻥْ * ﻳَﻨْﻘُـﻞَ
ﻋَـﻤَّﻦْ ﻓَﻮْﻗَﻪُ ﺑِﻌَﻦْ ﻭَﺃَﻥْ
Pertama,menggugurkan
syaikhnya dan menukil dari
perawi di atas nya dengan kata
”dari (ﻋَﻦْ) ”dan “bahwa (ﺃَﻥَّ)”
ﻭَﺍﻟﺜَّﺎﻥِ ﻻ ﻳُﺴْـﻘِﻄُﻪُ ﻟَﻜِﻦْ ﻳَﺼِﻒْ * ﺃَﻭْﺻَـﺎﻓَﻪُ
ﺑِﻤَﺎ ﺑِـﻪِ ﻻ ﻳَﻨْﻌَـﺮِﻑْ
Kedua,tidak menggugurkan
(syaikh) nya akan tetapi
mensifatinya dengan sifat yang
tidak dikenal
ﻭَﻣَﺎ ﻳُﺨَـﺎﻟِﻒْ ﺛِﻘَﺔٌ ﻓِﻴـﻪ ﺍﻟﻤَـﻼ * ﻓَﺎﻟﺸَّﺎﺫُّ
ﻭَﺍﻟﻤَﻘْﻠُﻮﺏُ ﻗِﺴْﻤَﺎﻥِ ﺗَـﻼ
Hadits (tsiqah) yang menyelisihi
hadits yang (lebih) tsiqah
disebut dengan Hadits Syadz.
Hadits Maqlub ada dua jenis
ﺇِﺑْـﺪَﺍﻝُ ﺭَﺍﻭٍ ﻣَﺎ ﺑِﺮَﺍﻭٍ ﻗِﺴْــﻢُ * ﻭَﻗَﻠْﺐُ ﺇِﺳْـﻨَﺎﺩٍ
ﻟِﻤَﺘْﻦٍ ﻗِﺴْــﻢُ
Pertama,terganti (terbolak-
balik) rawi yang satu dengan
yang lain.Kedua,terbolak-
baliknya sanad matan tertentu
dengan sanad matan yang lain
ﻭَﺍﻟْﻔَـﺮْﺩُ ﻣَﺎ ﻗَﻴَّﺪْﺗَـﻪُ ﺑِﺜِﻘَــﺔِ * ﺃَﻭْ ﺟَﻤْﻊٍ ﺃَﻭْ
ﻗَﺼْﺮٍ ﻋَﻠَﻰ ﺭِﻭَﺍﻳَـﺔِ
Hadits Fard adalah hadits yang
kau kaitkan dengan
periwayatan seorang yang
tsiqah,atau periwayatan
sebuah kelompok tertentu,atau
terbatas/dikhusukan pada
riwayatnya saja
ﻭَﻣَـﺎ ﺑِﻌِﻠَّﺔٍ ﻏُﻤُﻮﺽٍ ﺃَﻭْ ﺧَﻔَــﺎ * ﻣُـﻌَﻠَّﻞٌ
ﻋِﻨْﺪَﻫُـﻢُ ﻗَـﺪْ ﻋُﺮِﻓَـﺎ
Hadits yang mengandung cacat
yang samar atau tersembunyi
dikenal oleh Ahli Hadits dengan
Hadits Mu’allal
ﻭَﺫﻭ ﺍﺧْﺘِﻼﻑِ ﺳَـﻨَﺪٍ ﺃَﻭْ ﻣَﺘْـﻦِ * ﻣُﻀْﻄَﺮِﺏٌ
ﻋِﻨْﺪَ ﺃُﻫَـﻴْﻞِ ﺍﻟْﻔَـﻦِّ
Hadits yang sanad atau
matannya berselilih (memiliki
perbedaan) menurut Ahli Hadits
disebut Hadits Mudhtharib
ﻭَﺍﻟﻤُﺪْﺭَﺟَﺎﺕُ ﻓﻲ ﺍﻟﺤَﺪِﻳﺚِ ﻣَﺎ ﺃَﺗَﺖْ * ﻣِﻦْ
ﺑَﻌْﺾِ ﺃَﻟْﻔَﺎﻅِ ﺍﻟﺮُّﻭﺍﺓِ ﺍﺗَّﺼَﻠَﺖْ
Hadits Mudraj yaitu hadits yang
datang (ditambahkan) pada
(sanad atau matan) nya
sebagian lafaz-lafaz perawi
ﻭَﻣَﺎ ﺭَﻭَﻯ ﻛُﻞُّ ﻗَﺮِﻳﻦٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺧِـﻪْ * ﻣُﺪَﺑَّﺞٌ
ﻓَﺎﻋْﺮِﻓْﻪُ ﺣَﻘَـﺎً ﻭَﺍﻧْﺘَﺨِـﻪْ
Hadist yang diriwayatkan oleh
setiap teman dari saudaranya
disebut Hadits Mudabbaj
ﻣُﺘَّﻔِﻖٌ ﻟَﻔْﻈـﺎً ﻭَﺧَﻄـﺎً ﻣُﺘَّﻔِـﻖُ * ﻭَﺿِﺪُّﻩُ
ﻓِﻴﻤَــﺎ ﺫَﻛَﺮْﻧَﺎ ﺍﻟﻤُﻔْﺘَﺮِﻕْ
Kesesuaian lafaz dan tulisan
(nama perawi) nya disebut
Muttafiq dan kebalikan dari
yang kami sebutkan disebut
Muftariq
ﻣُﺆﺗَﻠِﻒٌ ﻣُﺘَّﻔِﻖُ ﺍﻟﺨَﻂِّ ﻓَﻘَـــﻂْ * ﻭَﺿِﺪُّﻩُ
ﻣُﺨْﺘَﻠِﻒٌ ﻓَﺎﺧْﺶَ ﺍﻟﻐَﻠَﻂْ
Mu’talif itu jika sesuai tulisan
(nama perawi) nya saja (tidak
lafaznya) dan kebalikannya
disebut Mukhtalif maka
waspadailah kekeliruan
ﻭَﺍﻟﻤُﻨْﻜَﺮُ ﺍﻟْﻔَﺮْﺩُ ﺑِﻪِ ﺭَﺍﻭ ﻏَــﺪَﺍ * ﺗَﻌْﺪِﻳﻠُﻪُ ﻻ
ﻳَﺤْﻤِــﻞُ ﺍﻟﺘَّﻔَـﺮُّﺩَﺍ
Hadits munkar adalah hadits
yang diriwayatkan oleh seorang
rawi yang tidak diterima ta’dil
nya dalam keadaan menyendiri
ﻣَﺘْﺮُﻭﻛُﻪُ ﻣَﺎ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ﺑِﻪِ ﺍﻧْﻔَــﺮَﺩْ * ﻭَﺃَﺟْﻤَﻌُﻮﺍ
ﻟِﻀَﻌْﻔِﻪِ ﻓَﻬْﻮَ ﻛَــﺮَﺩّْ
Hadits Matruk adalah hadits
yang menyendiri perawinya dan
mereka (para ahli hadits)
menyepakati Kedhaifan Rawi
tersebut dan menolaknya
ﻭَﺍﻟﻜَــﺬِﺏُ ﺍﻟﻤُﺨْﺘَﻠَﻖُ ﺍﻟﻤَﺼْﻨُﻮﻉُ * ﻋَﻠَﻰ
ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﻓَــﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟﻤَﻮْﺿُﻮﻉُ
Hadits dusta yang dibuat-buat
(dipalsukan) atas nama nabi
maka itulah Hadits Maudhu’
ﻭَﻗَــﺪْ ﺃَﺗَﺖْ ﻛَﺎﻟﺠَﻮْﻫَﺮِ ﺍﻟﻤَﻜْﻨُﻮﻥِ *
ﺳَــﻤَّـﻴْﺘُﻬَﺎ ﻣَﻨْﻈُﻮﻣَﺔَ ﺍﻟﺒَﻴْﻘُﻮﻧِﻲ
Sungguh nadzham ini seperti Al
Jauhar Al Maknun yang ku beri
nama Mandzhumah Al
Baiquuniyah
ﻓَـــﻮْﻕَ ﺍﻟﺜَّﻼﺛِﻴﻦَ ﺑِﺄَﺭْﺑَﻊٍ ﺃَﺗَﺖْ * ﺃَﺑْﻴَﺎﺗُﻬـــَﺎ ﺛُﻢَّ
ﺑِﺨَﻴﺮٍﺧُـﺘِﻤَﺖْ
Datang dengan 34 bait
kemudian ditutup dengan baik

Sumber:www.arabic.web.id

Matan Al Baiquniyyah

Penulis kitab ini adalah Syaikh
Thaha bin Muhammad bin Futuh Al
Baiquny, seorang Ahli Hadits yang
hidup sebelum tahun 1080 H atau
1669 M. Pengarang kitab Fathul
Qadir AL Mughits di dalam bidang
hadits. Tidak ada hal lain yang
diketahui oleh para ulama tentang
Syaikh Al Baiquny, bahkan mereka
berselisih tentang nama nya,
sebagian mengatakan bahwa
beliau bernama Thaha, sebagian
lain mengatakan bahwa namanya
adalah ‘Umar.
Kitab Matan Al Mandhzumah AL
Baiquniyyah merupakan kitab
dasar ilmu hadits yang dirangkai
dalam bait-bait syair yang berisi
istilah dasar seputar pembagian
hadits dan macam-macam nya.
Kitab ini sangat baik dijadikan
pegangan awal sebelum membaca
kitab-kitab hadits yang lebih tinggi.
ﻣﻨﻈﻮﻣﺔ ﺍﻟﺒﻴﻘﻮﻧﻴﺔ
ﺃَﺑْـﺪَﺃُ ﺑِﺎﻟﺤَﻤْـﺪِ ﻣُـﺼَﻠِّﻴﺎً ﻋﻠـﻰ * ﻣُﺤَﻤَّــﺪٍ
ﺧَﻴْﺮِ ﻧَﺒﻲِّ ﺃُﺭْﺳِـﻼ
ﻭَﺫﻱ ﻣـﻦْ ﺃﻗﺴـﺎﻡِ ﺍﻟﺤَﺪﻳﺚِ ﻋِﺪَّﻩْ * ﻭَﻛُـﻞُّ
ﻭَﺍﺣِـﺪٍ ﺃَﺗَﻰ ﻭَﻋَـﺪَّﻩْ
ﺃَﻭَّﻟُﻬَﺎ ﺍﻟﺼَّﺤِﻴﺢُ ﻭَﻫُـﻮَ ﻣَﺎ ﺍﺗَّﺼَـﻞّْ* ﺇﺳْﻨَﺎﺩُﻩُ
ﻭَﻟَﻢْ ﻳَﺸُـﺬَّ ﺃَﻭْ ﻳُﻌَـﻞّْ
ﻳَﺮْﻭﻳﻪِ ﻋَﺪْﻝٌ ﺿَـﺎﺑِﻂٌ ﻋَﻦْ ﻣِﺜْﻠِـﻪِ * ﻣُﻌْﺘَﻤَـﺪٌ
ﻓِﻲ ﺿَﺒْﻄِﻪِ ﻭَﻧَﻘْﻠِـﻪِ
ﻭَﺍﻟﺤَﺴَﻦُ ﺍﻟﻤَﻌْﺮﻭﻑُ ﻃُﺮْﻗـﺎً ﻭَﻏﺪَﺕْ *
ﺭِﺟَﺎﻟَﻪُ ﻻ ﻛَﺎﻟﺼَّﺤِﻴﺢِ ﺍﺷْﺘَﻬَﺮَﺕْ
ﻭَﻛُﻞُّ ﻣَﺎ ﻋَﻦْ ﺭُﺗْﺒَﺔِ ﺍﻟﺤُﺴْﻦِ ﻗَﺼُـﺮْ * ﻓَﻬُﻮَ
ﺍﻟﻀَّﻌِﻴﻒُ ﻭَﻫْﻮَ ﺃَﻗْﺴَﺎﻣَﺎً ﻛَﺜُﺮْ
ﻭَﻣَـﺎ ﺃُﺿِﻴﻒَ ﻟِﻠﻨَّﺒﻲ ﺍﻟﻤَﺮْﻓُــﻮﻉُ * ﻭَﻣَـﺎ ﻟِﺘَﺎﺑِﻊٍ
ﻫُـﻮَ ﺍﻟﻤَﻘْﻄُـﻮﻉُ
ﻭﺍﻟﻤُﺴْﻨَﺪُ ﺍﻟﻤُﺘَّﺼِﻞُ ﺍْﻹﺳْﻨَﺎﺩِ ﻣِــﻦْ * ﺭَﺍﻭِﻳﻪِ
ﺣَﺘَّﻰ ﺍﻟﻤُﺼْﻄَﻔَﻰ ﻭﻟَﻢْ ﻳَﺒِﻦْ
ﻭَﻣَـﺎ ﺑِﺴَـﻤْﻊِ ﻛُﻞِّ ﺭَﺍﻭٍ ﻳَﺘَّﺼِـﻞْ * ﺇﺳْﻨَﺎﺩُﻩُ
ﻟِﻠْﻤُﺼْﻄَﻔَﻰ ﻓَﺎﻟْﻤُﺘَّﺼِـﻞْ
ﻣُﺴَﻠْﺴَﻞٌ ﻗُﻞْ ﻣَﺎ ﻋَﻠَﻰ ﻭَﺻْﻒٍ ﺃَﺗَﻰ * ﻣِﺜْﻞُ
ﺃَﻣَﺎ ﻭَﺍﻟﻠـﻪِ ﺃَﻧْﺒَﺎﻧِﻲ ﺍﻟْﻔَﺘَـﻰ
ﻛَـﺬَﺍﻙَ ﻗَـﺪْ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻴﻪِ ﻗَﺎﺋِﻤــﺎ * ﺃَﻭْ ﺑَﻌْـﺪَ ﺃَﻥْ
ﺣَﺪَّﺛَﻨِـﻲ ﺗَﺒَﺴَّـﻤﺎ
ﻋَﺰِﻳﺰُ ﻣَﺮْﻭِﻱ ﺍﺛْﻨَﻴﻦِ ﺃَﻭْ ﺛَﻼَﺛَــﻪْ * ﻣَﺸْﻬُﻮﺭُ
ﻣَﺮْﻭِﻱ ﻓَﻮْﻕَ ﻣَـﺎ ﺛَﻼَﺛَﻪْ
ﻣُﻌَﻨْﻌَﻦٌ ﻛَﻌَﻦْ ﺳَﻌِﻴﺪٍ ﻋَـﻦْ ﻛَـﺮَﻡْ * ﻭَﻣُﺒْﻬَﻢٌ
ﻣَـﺎ ﻓﻴﻪِ ﺭَﺍﻭٍ ﻟَﻢْ ﻳُﺴَـﻢّْ
ﻭَﻛُـﻞُّ ﻣـَﺎ ﻗَﻠَّﺖْ ﺭِﺟَﺎﻟُﻪُ ﻋَـﻼَ * ﻭَﺿِـﺪُﻩُ ﺫَﺍﻙَ
ﺍﻟَّﺬِﻱ ﻗَﺪْ ﻧَـﺰَﻻَ
ﻭَﻣَﺎ ﺃَﺿَﻔْﺘَﻪُ ﺇِﻟﻰ ﺍﻷَﺻْﺤَـﺎﺏِ ﻣِﻦْ * ﻗَﻮْﻝٍ
ﻭَﻓِﻌْﻞٍ ﻓَﻬْﻮَ ﻣَﻮْﻗُﻮﻑٌ ﺯُﻛِﻦْ
ﻭَﻣُﺮْﺳَـﻞٌ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﻟﺼَّﺤَﺎﺑِﻲُّ ﺳَﻘَﻂْ * ﻭَﻗُﻞْ
ﻏَﺮِﻳﺐٌ ﻣَﺎ ﺭَﻭَﻯ ﺭَﺍﻭٍ ﻓَﻘَﻂْ
ﻭَﻛُـﻞُّ ﻣَﺎ ﻟَـﻢْ ﻳَﺘَّﺼِﻞْ ﺑِﺤَـﺎﻝِ * ﺇِﺳْـﻨَﺎﺩُﻩُ
ﻣُﻨْﻘَﻄِﻊُ ﺍْﻷﻭْﺻَـﺎﻝِ
ﻭَﺍﻟﻤُﻌْﻀَﻞُ ﺍﻟﺴَّـﺎﻗِﻂُ ﻣِﻨْﻪُ ﺍﺛْﻨَـﺎﻥِ * ﻭَﻣَـﺎ
ﺃَﺗَﻰ ﻣُﺪَﻟَّﺴـﺎً ﻧَﻮْﻋَـﺎﻥِ
ﺍﻷَﻭَّﻝُ ﺍﻻﺳْـﻘَﺎﻁُ ﻟﻠﺸَّﻴْﺦِ ﻭَﺃﻥْ * ﻳَﻨْﻘُـﻞَ
ﻋَـﻤَّﻦْ ﻓَﻮْﻗَﻪُ ﺑِﻌَﻦْ ﻭَﺃَﻥْ
ﻭَﺍﻟﺜَّﺎﻥِ ﻻ ﻳُﺴْـﻘِﻄُﻪُ ﻟَﻜِﻦْ ﻳَﺼِﻒْ * ﺃَﻭْﺻَـﺎﻓَﻪُ
ﺑِﻤَﺎ ﺑِـﻪِ ﻻ ﻳَﻨْﻌَـﺮِﻑْ
ﻭَﻣَﺎ ﻳُﺨَـﺎﻟِﻒْ ﺛِﻘَﺔٌ ﻓِﻴـﻪ ﺍﻟﻤَـﻼ * ﻓَﺎﻟﺸَّﺎﺫُّ
ﻭَﺍﻟﻤَﻘْﻠُﻮﺏُ ﻗِﺴْﻤَﺎﻥِ ﺗَـﻼ
ﺇِﺑْـﺪَﺍﻝُ ﺭَﺍﻭٍ ﻣَﺎ ﺑِﺮَﺍﻭٍ ﻗِﺴْــﻢُ * ﻭَﻗَﻠْﺐُ ﺇِﺳْـﻨَﺎﺩٍ
ﻟِﻤَﺘْﻦٍ ﻗِﺴْــﻢُ
ﻭَﺍﻟْﻔَـﺮْﺩُ ﻣَﺎ ﻗَﻴَّﺪْﺗَـﻪُ ﺑِﺜِﻘَــﺔِ * ﺃَﻭْ ﺟَﻤْﻊٍ ﺃَﻭْ
ﻗَﺼْﺮٍ ﻋَﻠَﻰ ﺭِﻭَﺍﻳَـﺔِ
ﻭَﻣَـﺎ ﺑِﻌِﻠَّﺔٍ ﻏُﻤُﻮﺽٍ ﺃَﻭْ ﺧَﻔَــﺎ * ﻣُـﻌَﻠَّﻞٌ
ﻋِﻨْﺪَﻫُـﻢُ ﻗَـﺪْ ﻋُﺮِﻓَـﺎ
ﻭَﺫﻭ ﺍﺧْﺘِﻼﻑِ ﺳَـﻨَﺪٍ ﺃَﻭْ ﻣَﺘْـﻦِ * ﻣُﻀْﻄَﺮِﺏٌ
ﻋِﻨْﺪَ ﺃُﻫَـﻴْﻞِ ﺍﻟْﻔَـﻦِّ
ﻭَﺍﻟﻤُﺪْﺭَﺟَﺎﺕُ ﻓﻲ ﺍﻟﺤَﺪِﻳﺚِ ﻣَﺎ ﺃَﺗَﺖْ * ﻣِﻦْ
ﺑَﻌْﺾِ ﺃَﻟْﻔَﺎﻅِ ﺍﻟﺮُّﻭﺍﺓِ ﺍﺗَّﺼَﻠَﺖْ
ﻭَﻣَﺎ ﺭَﻭَﻯ ﻛُﻞُّ ﻗَﺮِﻳﻦٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺧِـﻪْ * ﻣُﺪَﺑَّﺞٌ
ﻓَﺎﻋْﺮِﻓْﻪُ ﺣَﻘَـﺎً ﻭَﺍﻧْﺘَﺨِـﻪْ
ﻣُﺘَّﻔِﻖٌ ﻟَﻔْﻈـﺎً ﻭَﺧَﻄـﺎً ﻣُﺘَّﻔِـﻖُ * ﻭَﺿِﺪُّﻩُ
ﻓِﻴﻤَــﺎ ﺫَﻛَﺮْﻧَﺎ ﺍﻟﻤُﻔْﺘَﺮِﻕْ
ﻣُﺆﺗَﻠِﻒٌ ﻣُﺘَّﻔِﻖُ ﺍﻟﺨَﻂِّ ﻓَﻘَـــﻂْ * ﻭَﺿِﺪُّﻩُ
ﻣُﺨْﺘَﻠِﻒٌ ﻓَﺎﺧْﺶَ ﺍﻟﻐَﻠَﻂْ
ﻭَﺍﻟﻤُﻨْﻜَﺮُ ﺍﻟْﻔَﺮْﺩُ ﺑِﻪِ ﺭَﺍﻭ ﻏَــﺪَﺍ * ﺗَﻌْﺪِﻳﻠُﻪُ ﻻ
ﻳَﺤْﻤِــﻞُ ﺍﻟﺘَّﻔَـﺮُّﺩَﺍ
ﻣَﺘْﺮُﻭﻛُﻪُ ﻣَﺎ ﻭَﺍﺣِﺪٌ ﺑِﻪِ ﺍﻧْﻔَــﺮَﺩْ * ﻭَﺃَﺟْﻤَﻌُﻮﺍ
ﻟِﻀَﻌْﻔِﻪِ ﻓَﻬْﻮَ ﻛَــﺮَﺩّْ
ﻭَﺍﻟﻜَــﺬِﺏُ ﺍﻟﻤُﺨْﺘَﻠَﻖُ ﺍﻟﻤَﺼْﻨُﻮﻉُ * ﻋَﻠَﻰ
ﺍﻟﻨَّﺒِﻲ ﻓَــﺬَﻟِﻚَ ﺍﻟﻤَﻮْﺿُﻮﻉُ
ﻭَﻗَــﺪْ ﺃَﺗَﺖْ ﻛَﺎﻟﺠَﻮْﻫَﺮِ ﺍﻟﻤَﻜْﻨُﻮﻥِ *
ﺳَــﻤَّـﻴْﺘُﻬَﺎ ﻣَﻨْﻈُﻮﻣَﺔَ ﺍﻟﺒَﻴْﻘُﻮﻧِﻲ
ﻓَـــﻮْﻕَ ﺍﻟﺜَّﻼﺛِﻴﻦَ ﺑِﺄَﺭْﺑَﻊٍ ﺃَﺗَﺖْ * ﺃَﺑْﻴَﺎﺗُﻬـــَﺎ ﺛُﻢَّ
ﺑِﺨَﻴﺮٍﺧُـﺘِﻤَﺖْ

Insya Allah Besambung Pada
Terjemah Matan Al-Baiquniyyah

Sumber:www.arabic.web.id

Tabi’in Menurt Ilmu Hadits

Definisi Tabi’i
Secara bahasa kata Tabi’in
merupakan bentuk jamak (Plural)
dari Tabi’i atau Tabi’. Tabi’
merupakan Ism Fa’il dari kata kerja
Tabi’a. Bila dikatakan, Tabi’ahu
fulan, maknanya Masya Khalfahu
(Si fulan berjalan di belakangnya).
Secara istilah adalah orang yang
bertemu dengan shahabat dalam
keadaan Muslim dan meninggal
dunia dalam Islam pula. Ada yang
mengatakan, Tabi ’i adalah orang
yang menemati shahabat.
Faedahnya
Di antara faedah mengenal Tabi’in
adalah agar dapat membedakan
mana hadits Mursal (ucapan Tabi ’i
yang meriwayatkan langsung dari
Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam
tanpa menyebutkan shahabat) dan
mana hadits Muttashil
(bersambung sanadnya hingga
kepada Nabi Shallallahu Alaihi
Wassalam).
Thabaqat Tabi’in
Para ulama berbeda pendapat
mengenai Thabaqat (tingkatan)
Tabi’in. Karena itu, mereka
engklasifikasikannya berdasarkan
pandangan masing-masing, di
antaranya:
a. Imam Muslim menjadikannya
tiga Thabaqat
b. Ibn Sa’d menjadikannya
empat Thabaqat
c. Al-Hakim menjadikannya lima
belas Thabaqat, yang
pertamanya adalah orang
yang bertemu dengan
sepuluh shahabat yang diberi
kabar gembira untuk masuk
surga.
Siapa Mukhadhramin?
Kata Mukhadhramin merupakan
bentuk jamak (plural) dari kata
Mukhadhram. Pengertiannya
adalah orang yang hidup pada
masa Jahiliyah dan masa Nabi
Shallallahu Alaihi Wassalam lalu
masuk Islam akan tetapi ia tidak
sempat melihat beliau Shallallahu
Alaihi Wassalam. Menurut pendapat
yang shahih, Mukhadhramin
dimasukkan ke dalam kategori
kalangan Tabi’in.
Jumlah mereka ditaksir sebanyak
20 orang seperti yang dihitung oleh
Imam Muslim.
Akan tetapi pendapat yang tepat,
bahwa jumlah mereka lebih dari
itu, di antara nama mereka
terdapat Abu ‘Utsman an-Nahdi
dan al-Aswad bin Yazid an-
Nakha’iy.
Siapa Tujuh Fuqaha?
Di antara deretan para tokoh besar
Tabi’in adalah mereka yang disebut
al-Fuqaha as-Sab’’ah (Tujuh
Fuqaha). Mereka-lah para ulama
besar kalangan Tabi’in dan
semuanya berasal dari Madinah.
Mereka adalah:
1. Sa’id bin al-Musayyib
2. al-Qasim bin Muhammad
3. ‘Urwah bin az-Zubair
4. Kharijah bin Zaid
5. Abu Salamah bin ‘Abdurrahman
6. ‘Ubaidullah bin ‘Abdullah bin
‘Utbah
7. Sulaiman bin Yasar
(Dalam hal ini, Ibn al-Mubarak
memasukkan Salim bin ‘Abdullah
bin ‘Umar menggantikan Abu
Salamah. Sedangkan Abu az-Zinad
memasukkan Abu Bakar bin
‘Abdurrahman menggantikan dua
nama; Salim dan Abu Salamah)
Siapa Kalangan Tabi’in Yang
Paling Utama?
Terdapat perbedaan pendapat di
kalangan para ulama mengenai
siapa di antara kalangan Tabi’in
tersebut yang paling utama.
Pendapat yang masyhur bahwa
yang paling utama di antara
mereka adalah Sa’id bin al-
Musayyib. Abu ‘Abdillah,
Muhammad bin Khafif asy-Syairazi
berkata, “Ahli Madinah
mengatakan, Tabi’in paling utama
adalah Sa’id bin al-Musayyab. Ahli
Kufah mengatakan, ‘Uwais al-
Qarni.’ Ahli Bashrah mengatakan,
‘al-Hasan al-Bashari.’”
Siapa Kalangan Tabi’iyyat Yang
Paling Utama?
Abu Bakar bin Abu Daud berkata,
“Dua wanita tokoh utama kalangan
Tabi’iyyat (para wanita kalangan
Tabi’in) adalah Hafshoh binti Sirin
dan ‘Amrah binti ‘Abdurrahman.
Setelah itu, Ummu ad-Darda’.”*
Karya-Karya Yang Paling
Masyhur Tentang Tabi’in
Di antaranya adalah kitab Ma’rifah
at-Tabi’in karya Abu al-Mithraf bin
Futhais al-Andalusi.**
· Yang dimaksud di sini adalah
Ummu ad-Darda’ ash-Shugra
(isteri muda Abu ad-Darda’)
yang bernama Hujaimah
(ada yang menyebutnya,
Juhaimah). Sedangkan
Ummu ad-Darda’ al-Kubra
(isteri tua Abu ad-Darda’)
bernama Khairah yang
merupakan seorang wanita
shahabat.
· ar-Risalah al-Mustathrifah, dari
hal. 105

(SUMBER: Taysir Mushtholah al-
Hadits karya Dr. Mahmud ath-
Thahhan, hal.202-203, penerbit
Maktabah al-Ma’arif, Riyadh, Cet.IX,
tahun 1997/1417 H)

Disalin dari:www.ahlulhadits.wordpress.com

Biografi ibn syihab

Nama sebenarnya adalah
Muhammad bin Muslim bin
Abdullah, alim dan ahli fiqh. Al-Laits
bin Sa’ad berkata: “Aku belum
pernah melihat seorang alimpun
yang lebih mumpuni dari pada az-
Zuhri, kalau ia berbicara untuk
memberi semangat, tidak ada
yang lebih baik dari pada dia, bila
dia berbicara tentang sunnah dan
al-Qur’an pembicaraanya lengkap“.
Ibnu Syihab az-Zuhri tinggal di Ailah
sebuah desa antara Hijaz dan
Syam, reputasinya menyebar
sehingga ia menjadi tempat
berpaling bagi para ulama Hijaz
dan Syam. Selama delapan tahun
Ibnu Syihab az-Zuhri ia tinggal
bersama Sa’id bin Al-Musayyab di
sebua desa bernama Sya’bad di
pinggir Syam. Disana pula ia wafat.
Ia membukukan banyak hadits
yang dia dengan dan dia himpun.
Berkata Shalih bin Kisan:” Aku
menuntut ilmu bersama az-Zuhri,
dia berkata: mari kita tulis apa
yang berasal dari Nabi Shallallahu
alaihi wassalam, pada kesempatan
yang lain dia berkata pula: “Mari
kita tulis apa yang berasal dari
Sahabat”, dia menulis dan aku
tidak. Akhirnya dia berhasil dan
aku gagal”.
Kekuatan hapalan dan kecermatan
az-Zuhri dapat disimak oleh Hisyam
bin Abdul Malik pernah ia meminta
untuk mendiktekan kepada
beberapa orang anaknya, dan az-
Zuhri ternyata mampu
mendiktekan 400 hadits. Setelah
keluar dari rumah Hisyam dan
kepada yang lainpun ia
menceritakan 400 hadits tersebut.
Setelah sebulan lebih ia bertemu
lagi dengan az-Zuhri, Hisyam
berkata kepadanya “Catatanku
dulu itu telah hilang “, kali ini
dengan memanggil Juru tulis az-
Zuhri mendiktekan lagi 400 hadits
tersebut. Hisyam mengagumi
kemampuan az-Zuhri,.
Kecermatan dan penguasaan
hadits oleh az-Zuhri membuat Amr
bin Dinar mengakui keutamaanya
dengan berkata :”Aku tidak
melihat ada orang yang yang
pengetahuannya terhadap hadits
melebihi az-Zuhri”.
Az-Zuhri memang selalu berusaha
keras untuk meriwayatkan hadits,
ada yang berkata bahwa az-Zuhri
menghimpun hadits jumlahnya
mencapai 1.200 hadits, tetapi
yang musnad hanya separuhnya.
Az-Zuhri meriwayatkan hadits
bersumber dari Abdullah bin Umar,
Abdullah bin Ja’far, Shal bin Sa’ad,
Urwah bin az-Zubair, Atha’ bin Abi
Rabah. Ia juga mempunyai riwayat
riwayat yang mursal dari Ubadah
bin as-Shamit, Abu Hurairah, Rafi’
bin Khudaij, dan beberapa lainnya.
Imam bukhari berpendapat bahwa
sanad az-Zuhri yang paling shahih
adalah az-Zuhri, dari Salim, dari
ayahnya. Sedangkan Abu Bakar
bin Abi Syaibah menyatakan
bahwa sanadnya yang paling
shahih adalah az-Zuhri, dari Ali bin
Husain, dari bapaknya dari
kakeknya (Ali bin Abi Thalib)”.
Ia wafat di Sya’bad pada tahun
123 H, ada yang mengatakan ia
wafat tahun 125 H.

Disalin dari Biografi az-Zuhri dalam
Tahdzib at Tahdzib : Ibn Hajar
Asqalani 9/445

Sumber http://ahlulhadist.wordpress.com

Biografi Ikrimah

Nama sebenarnya adalah Abu
Abdullah Ikrimah Maulana
Ibnu Abbas seorang tabi’in
yang meriwayatkan hadits
hadits ibnu Abbas.
Ikrimah berasal dari Barbari
dari penduduk Maghribi, Ibnu
Abbas memilikinya sejak ia
menjadi Gubernor Bashrah
dalam kekhalifahan Ali bin Abi
Thalib.
Ibnu Abbas mengajarkan al
Qur’an dan Sunnah kepada
Ikrimah dengan sebaik
baiknya, Ikhrimah sendiri
pernah mengatakan, bahwa
Ibnu Abbas tetap memberikan
pelajaran kepadanya, Ikrimah
terus menerus menerima ilmu
dari Ibnu abbas, sehingga ia
memperoleh keahlian dalam
berfatwa dan diizinkannya
berfatwa.
Ia ahli dibidang hadits dan
fatwa juga ahli dalam bidang
qira’at dan tafsir, ia masuk
golongan qurra yang
termasyur dan mufassir yang
terkenal.
Ikrimah tetap dalam
perbudakan hingga Ibnu
abbas wafat, sehingga ia
dimiliki oleh Ali bin Ibnu abbas
(anaknya Ibnu abbas),
kemudian Ali menjualnya
kepada Khalid bin Yasid bin
Mua’wiyyah dengan harga
4.000 dinar, lalu Ikrimah
bertanya kepada Ali, “
Mengapa anda menjual ilmu
ayah anda dengan harga
4.000 dinar?”. Mendengar itu
Ali membatalkan
penjualannya dan
memerdekakan Ikrimah.
Ia menerima hadits dari
banyak sahabat yaitu Ibnu
Abbas, Al Hasan bin Ali, Abu
Qotadah, Ibnu Umar, Abu
Hurairah, Abu Sa’id,
Mua’wiyyah dan Ibnu Amr bin
Ash.
Sedangkan yang
meriwayatkan hadits darinya
adalah Abusy Sya’tsa, asy
Sya’by, an Nakha’iy, Abu
Ishaq, as Subai-iy, Ibnu sirin,
Amr ibn Dinar.
Para ulama sepakat bahwa
Ikrimah adalah orang yang
Tsiqah dan mereka berhujjah
dengan hadits hadits yang
diriwayatkan olehnya.
Namun demikian Muslim
hanya meriwayatkan sebuah
hadits saja darinya dalam bab
haji yang disertakan dengan
Sa’id bin Jubair.
Banyak para ulama hadits
yang menyusun kitab
berhujjah dengan Ikrimah
diantaranya adalah Ibnu Jarir,
ath Thabary, Ibn Nashr al
Marwazy, Ibn Mandah, Abu
Hatim, Ibn Hibban, Abu Umar
bin Abdul Barr dan lain lannya.
Dan di antara ulama yang
membelanya seperti Al Hafidh
Ibnu Hajar didalam Muthashar
Tahdzibu kamal daan didalam
Muadimmah Fathul Bari.
Al Bukhary berkata,” Tidak
ada diantara para ulama
hadits yang tidak berhujjah
dengan Ikrimah”.
Ibnu Mai’n berkata,” Apabila
kami melihat orang yang
mencela Ikrimah, kamipun
menuduh orang itu tidak
benar”.
Muhammad bin Nashr al
Marwazy berkata,” Seluruh
ilmu hadits diantaranya
Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur,
Yahya bin Ma’in, aku telah
bertanya kepada Ishaq
tentang berhujjah dengan
Ikrimah, maka beliau
menjawab, “Ikrimah dalam
pandangan kami, Imam yang
tsiqah”.
Ibnu Mahdah berkata,”
Ikrimah dipandang adil oleh 70
tabi ’in, ini suatu kedudukan
yang hampir-hampir tidak
diperoleh oleh orang lain.
Orang yang mencacinya pun
meriwayatkan juga hadits
darinya. Dan Haditsnya
diterima oleh para ulama. “.
Dari pernyataan pernyataan
ini, nyatalah bahwa apabila
orang orang kepercayaan
meriwayatkan suatu hadits
dari Ikrimah, maka tidak ada
jalan untuk meragui
kebenaran hadits itu.
Ia wafat pada tahun 105 H
dalam usia 80 tahun lebih.
Disalin dari riwayat Ikrimah
dalam Tahdzibul Asma’I wal
Lughat an Nawawi1 340,
Muqadimmah Fatul Bari karya
Ibn Hajar II:148, Tahdzib at
Tahdzib karya Ibnu Hajar
asqalani.VII:236.
Sumber:http://ahlulhadist.wordpress.com

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.